Mendukung Nawacita Pemerintah, KKN 100 UTM Bersama BKKBN Jawa Timur Mengadakan Sosialisasi Kependudukan dan Pelatihan Kreatifitas

Drs. Edy Hartono, M.M. (tengah batik merah), R. Ach. Munif Haryono. S.KM, M.Kes., H. Samsul Hadi, dan Romdlan (Almamater) saat sesi diskusi berlangsung. 
Modung (4/8/2018) - Pernikahan dini masih sering terjadi di daerah-daerah pedalaman yang masih menjunjung nilai-nilai adat dari leluhur mereka. Peristiwa ini memang masih menjadi trending topik dan sorotan tajam dari berbagai lembaga. Salah satu lembaga pemerhati terkait pernikahan dini adalah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Selain itu, para aktivis anak dan perempuan di berbagai daerah di Indonesia sering kali memberikan informasi dan sosialisasi mencegah terjadinya pernikahan dini.

Terdapat beberapa permasalahan yang timbul akibat pernikahan dini mulai dari gangguan fisik dan psikis pasangan muda yang belum cukup dewasa, tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan, sampai peningkatan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.

Kondisi disini peran lembaga-lembaga pemerhati kasus ini sangat dibutuhkan guna memberikan edukasi terhadap orang tua maupun anak yang akan melangsungkan pernikahan. Ketika orang tua mengetahui dampak yang akan terjadi paska pernikahan dini, mereka akan memberikan pertimbangan kepada sang buah hati agar lebih dewasa dalam melangsungkan pernikanahan.

Pentingnya peran serta orang tua dalam melindungi anak dari praktik pernikahan usia dini sangat diperlukan untuk meminimalisir hal-hal tersebut.

BKKBN telah memberikan pedoman batas usia yang ideal untuk sebuah pernikahan atau dikenal batas usia minimal pernikahan. Untuk seorang pria usia ideal pernikahan yaitu 25 tahun sedangkan usia 21 tahun menjadi patokan pernikahan untuk seorang wanita.

BKKBN menjadi lembaga yang sangat diharapkan mampu mengatasi permasalahan kependudukan, salah satunya yaitu peningkatan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Melalui progam Keluarga Berencana (KB), masyarakat Indonesia diharapkan mampu merencanakan kehidupan di masa yang akan datang dengan berbagai pertimbangan matang guna menghindari perceraian dan permasalahan lainnya yang mengganggu harmonisasi dalam berkeluarga.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang tergabung dalam kelompok 100 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2018 bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur Melalui Badan Pemberdayan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Daerah Bangkalan mengadakan Sosialisasi Pernikahan Usia Dini dengan tema “Pendewasaan Usia Pernikahan dan Pentingnya Membentuk Keluarga yang Sejahtera melalui Keluarga Berencana”.

Beberapa tahun yang lalu Dusun Secang (salah satu dusun di Desa Pakong) menjadi binaan dari BKKBN Jatim melalui Progam Kampung KB. Dari binaan inilah yang nantinya menjadi awal upaya mengatasi permasahan-permasalahan masyarakat yang sering terjadi khususnya permasalahan kependudukan. Hal ini pula yang membuat dukungan dari Perangkat Desa Pakong kepada mahasiswa KKN UTM untuk membuat Sosialisasi KB terhadap masyarakat sekitar.

Sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Desa Pakong dihadiri oleh Pegawai PLKB Kecamatan Modung, Apatur Desa, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna dan beberapa undangan lainnya termasuk remaja desa sebagai target utama dari sosialisasi dan ibu-ibu warga Desa Pakong sebagai orang tua yang bertanggungjawab atas masa depan anaknya.

Sosialisasi tersebut memiliki tujuan agar mampu mengubah paradigma masyarakat tentang pernikahan dini. Dengan berbagai gagasan yang akan disampaikan oleh narasumber diharapkan mampu meminimalisir pernikahan dini di Desa Pakong Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini menghadirkan Bapak R. Ach Munif Haryono. S.KM, M.Kes yang merupakan Pegawai BPPKB Kabupaten Bangkalan sekaligus pemateri utama dalam kegiatan sosialisasi ini. Pak munif menjelaskan bahwa pernikahan yang ideal sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yaitu usia 21 tahun untuk wanita dan usia 25 tahun untuk laki-laki.

“Bapak ibu adek-adek sekalian, di kesempatan forum kali ini, saya perlu menyampaikan beberapa dampak pernikahan usia dini mulai dari dampak kesehatan, dampak psikis emosinal serta dampak fisik anak” kata beliau sambil menyapa peserta kegiatan ini.

“Secara kesehatan akan berdampak pada rahim karena kesiapan rahim seorang wanita yaitu diatas usia 20 tahun,” tambahnya.

Setelah uraian materi yang disampaikan oleh Pak Munif, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab serta saran untuk kemajuan Progam KB di desa tersebut. Kegiatan yang dipandu langsung oleh Bapak Drs. Edy Hartono, M.M. (Pegawai PLKB Kecamatan Modung)  berlangsung menarik, pasalnya beberapa peserta bertanya dan memberikan respon yang cukup baik terhadap apa yang disampaikan oleh pemateri utama.

Dalam Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), kata dia, semuanya diarahkan pada Nawacita atau sembilan agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat desa atau kampung, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dan melakukan revolusi karakter bangsa

Di akhir sesi Pak Munif mendorong agar peran Kampung KB ini lebih dirasakan oleh masyarakat sekitar, mengingat dalam Progam Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan (KKBPK) akan diarahkan pada Nawacita atau Sembilan agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkut desa, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan melakukan revolusi karakter. “Kampung KB merupakan progam terstruktur dari pemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan kependudukan, jadi tetap semangat mengikuti rangkaian kegiatan yang ada di Kampung KB, nantinya akan ada kesempatan pelatihan langsung dari ahlinya kepada masyarakat guna menumbuhkan ekonomi di desa ini,” paparnya sambil mengajak seluruh warga desa binaan BKKBN ini.

Kegiatan ini juga disusul dengan pelatihan kreatifitas oleh Mahasiswa KKN dengan menyulam sebagai ketrampilan yang nantinya bisa memberikan keindahan rumah bahkan bisa mendatangkan sumber pendapatan warga.

“Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi warga Desa Pakong dalam membentuk keluarga yang sejahtera.” ucap Romdlan yang merupakan koordinator desa KKN 100 UTM.

Kegiatan ini diakhiri dengan Peresmian Rumah Data dan Pojok Kependudukan oleh H. Samsul Hadi selaku Kepala Desa Pakong dengan pemotongan pita yang disaksikan langsung oleh seluruh peserta maupun undangan yang hadir di kegiatan sosialisasi tersebut. Rumah Data dan Pojok Kependudukan diharapkan menjadi pusat informasi seluruh aktivitas kependudukan di desa tersebut.
(Adi)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.