AIR TERJUN LAR-LAR

        
”Air terjun” Lar-Lar merupakan aliran sungai yang terdapat banyak bebatuan di sekelilingnya. Air yang mengalir dibawah celah bebatuan seolah-olah menyerupai air terjun, maka dari itu warga sekitar menyebutnya sebagai air terjun padahal aliran airnya tidak menyerupai air terjun pada umumnya (tinggi) . Air terjun lar-lar tersebut terletak di desa Pakong tepatnya di dusun Sorok. Menurut informasi dari salah satu warga sekitar, Air terjun Larlar berada di dusun Sorok desa Pakong yang merupakan salah satu potensi desa yang dapat dikembangkan. Konon katanya air terjun larlar bermula dari adanya hama yang melanda desa Pakong dan hama tersebut merusak bahkan menghabiskan tanaman masyarakat setempat sehingga masyarakat menjadi resah dan kekurangan bahan pangan. Menurut cerita masyarakat setempat, hama tersebut bukanlah hama biasa yang dapat dimusnahkan seperti hama pada umumnya. Hama yang menyerang menyerupai ular besar dan jika hamatersebut melintas di desa ini menyebabkan pohon-pohon tumbang. Kenapa hama tersebut disebut “Ular”?????? karena menurut masyarakat setempat sesuai penuturan seorang “Ulama” hama tersebut adalah seekor ular yang besar sampai tidak bisa di deskripsikan.
          Setelah berkali-kali masyarakat berusaha mengusir dan membasmi hama ini, usaha masyarakat hanyasia-sia karena hama ini tidak terdeteksi tempat persembunyiannya. Namun, masyarakat setempat berkata walaupun hama tersebut diketahui tempatnya mereka tidak akan berani dan mampu untuk membasmi karena dilihat dari jejaknya saja sudah mengerikan apalagi melihat wujud aslinya. Masyarakat yakin bahwa suatu saat pasti akan ada jalan keluar untuk memusnahkan hama yang melandadesa, meskipun mereka belum mengetahui cara memusnahkannya.
          Setelah sekian lama hama tersebut merusak tanaman yang ada di desa Pakong ini, ada seorang Ulama yang mendapat kabar tentang hama tersebut, lalu Ulama itu mengunjungi desa Pakong yang akhirnya beliau menetap di desa ini atas permintaan masyarakat. Masyarakat menyakini kalau ulama tersebutlah yang bisa membantu mencarikan solusi agar hama tersebut dapat dibasmi. Suatu hari beliau menelusuri desa Pakong dan beliau percaya kalau hama itu bukanlah hama biasa melainkan bentuk lain dari iblis yang berusaha mencari pengikut. Beliau terus berjalan dan menelusuri desa Pakong yang akhirnya beliau bertemu dengan hama yang menyerupai ular. Beliau berkata kepada hama  “Lar, lar nyengge jek agenggu oreng dhinnak,neser polana bekna oreng deddi laep(ular-ular pergi jangan ganggu masyarakat sini, kasian orang sini gara-gara kamu orang jadi kekuranganpangan)” (sambil mengetuk-ngetuk kepalaular dengan tongkat ulama tersebut).
          Tempat dimana ulama menemukan hama atau ular tersebut disebut “larlar” oleh masyarakat setempat. Ulama tersebut meminta ular itu pergi, lalu ular itu pergi ke arah barat dari larlar yang mana jejaknya menjadi jalan ke Dusun Masaran Desa Pakong. Sedangkan bekas jejak ular dari pertama muncul hingga sampai di “Larlar” tersebut membentuk sebuah jalan umum yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai jalan transportasi, namun dari jalan tersebut lama-kelamaan terisi air dan menjadilah sungai yang saat ini dimanfaatkan untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Pakong. Dan “Larlar” yang ada di desa Pakong tersebut dikenal sebagai “Air Terjun Larlar”, karena jika dilihat padawaktu air sungai tinggi seperti air terjun
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.