Pameran Online



 Desa  pakong  salah  satu  desa  yang  ada  di  kecamatan  Modung,  mayoritas
mata  pencaharian  masyarakatnya  adalah  seorang  petani,  yang  mana  hasil  panen
terbesarnya  yaitu  pohong  atau  singkong.  Pohong  adalah  sebutan  singkong  yang
biasa diucapkan oleh masyarakat desa pakong. Olahan pohong banyak ditemui di
berbagai  daerah  dengan  pembuatan  yang  berbeda-beda  baik  digoreng,  dikukus,
maupun  direbus.  Menjadikan  pohong  banyak  diminati  oleh  berbagai  macam
kalangan  dan  usia.  Hal  inilah  yang  menjadikan  kami  memilih  pohong  sebagai
bahan  utama  produk  yang  kami  ciptakan  yakni  BOHONG  (Brownies  Pohong).
Brownies  banyak  dikenal  sebagai  roti  coklat  yang  lezat.  Namun,  saat  ini  banyak
variasi yang adibuat seperti brownes dengan rasa macam-macam buah. Dalam hal
ini,  kami  membuat  brownies  yang  unik  namun  tak  kalah  lezat  dengan  brownies yang seperti biasanya.
Melihat  peluang  yang  ada,  kami  KKN  kelompok  100  UTM  memberikan
suatu terobosan produk baru yaitu brownies pohong (BOHONG) dengan harapan
dapat  meningkatkan  dan  mendongkrak  perekonomian  Warga  Desa  Pakong.
Dengan  satu  olahan  produk  yang  akan  dikembangkan  sebagai  salah  satu  jajanan
khas  desa  pakong  ataupun  oleh-oleh  khas  Pakong.  Sehingga  kami  mengadakan
salah  satu  program  kerja  yaitu  pelatihan pengolahan produk “Brownis Pohong
(BOHONG)”  pada tanggal 23  dan  28  juli  2018  bertempat  di  rumah  kepala  desa
Syamsul  Hadi.  Usai  acara  tersebut  mendapat  respon  baik,  beberapa  warga  yang
langsung  mencoba  membuat  brownies  pohong  yang  diberi  nama    “BOHONG”
yang berarti brownies pohong. Produk ini dapat digunakan untuk acara keluarga,
arisan  dan  acara  resmi.  Yang  menjadi  titik  tekan  dari  seluruh  proses  pengolahan
tersebut  adalah  bahan-bahan  yang  digunakan  harus  higienis  serta  tanpa  bahan
pengawet.  Pangsa Pasar yang akan dijadikan Target Bohong ialah
1.  Masyarakat sekitar, merupakan Awal dalam strategi marketing yang mana
di harapkan bohong bisa di terima oleh masyarakat (brand image)
2.  Dilain  sisi  selain  menjadi  ikon  khas  oleh  oleh  pakong,  diharapkan  pula
bohong  juga  bisa  diterima  di  masyarakat  kecamatan  modung  Bahkan
Bangkalan  sehingga  dapat  mempercepat  akses  pendistribusian  bohong  di
masa mendatang
3.  Selain  itu,  kami  juga  sudah  memberikan  pelatihan  bahwasanya  Bohong
bisa  diperjual  belikan  dengan  media  online,  dan  juga  dengan
menggunakan  layanan  siap  antar  (Delivery  Order)  sehingga  membuat
efektifias pembelian Bohong
Harga yang Dikeluarkan cukup murah, dengan uang Rp 24.000,- Kemasan
Produk  Bohong  dalam  Kemasan  Produk  yang  Besar  sudah  dapat  Terbeli.
Dan untuk kemasan  Yang kecil harganya cukup Rp.17.000,-.
 
  Alat dan Bahan Pembuatan Brownies Pohong (BOHONG):
Alat:
1.  Mixer
2.  Baskom
3.  Sendok
4.  Cup Kue
5.  Dandang
6.  Piring kecil
7.  Gelas Ukur/Gelas Takar
8.  Panci
9.  Parutan Keju
10.  Pisau
Bahan:
 100 gr Dark Chocolat
250 gr Singkong Parut
150 gr Gula Pasir
80 gr Tepung Terigu
20 gr Cokelat Bubuk
½ Sendok Makan SP
100 gr Mentega
Meses
Keju
4 butir Telur
Vanili Bubuk
Langkah-Langkah Membuat Brownies Pohong:
1.  Panaskan  100  gr  dark  chocolate  dan  100  gr  mentega  hingga  mencair  lalu
dinginkan.
2.  Campurkan  4  butir  telur,  150  gr  gula,  ½  sendok  makan  sp  dan  vanili  bubuk,
kemudian mixer sampai adonan mengembang.  
3.  Kemudian campurkan 80 gr tepung terigu dan aduk hingga rata
 4.  Setelah adonan tercampur, lalu masukkan 20 gr cokelat bubuk dan aduk hingga
tercampur.
 5.  Campurkan cokelat cair kemudian aduk hingga rata.  
6.  Tambahkan  singkong  yang  telah  diparut  dan  diperas  airnya  dan  aduk  adonan
hingga tercampur
7.  Masukkan adonan kedalam cup dan kukus selama kurang lebih 20 menit.
8.  Setelah  dikukus,  angkat  adonan  yang  telah  matang.  Kemudian  beri  toping
sesuai selera. “BOHONG” siap dikemas.
9.  “BOHONG” siap untuk dipasarkan.


Share:

Mendukung Nawacita Pemerintah, KKN 100 UTM Bersama BKKBN Jawa Timur Mengadakan Sosialisasi Kependudukan dan Pelatihan Kreatifitas

Drs. Edy Hartono, M.M. (tengah batik merah), R. Ach. Munif Haryono. S.KM, M.Kes., H. Samsul Hadi, dan Romdlan (Almamater) saat sesi diskusi berlangsung. 
Modung (4/8/2018) - Pernikahan dini masih sering terjadi di daerah-daerah pedalaman yang masih menjunjung nilai-nilai adat dari leluhur mereka. Peristiwa ini memang masih menjadi trending topik dan sorotan tajam dari berbagai lembaga. Salah satu lembaga pemerhati terkait pernikahan dini adalah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Selain itu, para aktivis anak dan perempuan di berbagai daerah di Indonesia sering kali memberikan informasi dan sosialisasi mencegah terjadinya pernikahan dini.

Terdapat beberapa permasalahan yang timbul akibat pernikahan dini mulai dari gangguan fisik dan psikis pasangan muda yang belum cukup dewasa, tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan, sampai peningkatan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan.

Kondisi disini peran lembaga-lembaga pemerhati kasus ini sangat dibutuhkan guna memberikan edukasi terhadap orang tua maupun anak yang akan melangsungkan pernikahan. Ketika orang tua mengetahui dampak yang akan terjadi paska pernikahan dini, mereka akan memberikan pertimbangan kepada sang buah hati agar lebih dewasa dalam melangsungkan pernikanahan.

Pentingnya peran serta orang tua dalam melindungi anak dari praktik pernikahan usia dini sangat diperlukan untuk meminimalisir hal-hal tersebut.

BKKBN telah memberikan pedoman batas usia yang ideal untuk sebuah pernikahan atau dikenal batas usia minimal pernikahan. Untuk seorang pria usia ideal pernikahan yaitu 25 tahun sedangkan usia 21 tahun menjadi patokan pernikahan untuk seorang wanita.

BKKBN menjadi lembaga yang sangat diharapkan mampu mengatasi permasalahan kependudukan, salah satunya yaitu peningkatan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan. Melalui progam Keluarga Berencana (KB), masyarakat Indonesia diharapkan mampu merencanakan kehidupan di masa yang akan datang dengan berbagai pertimbangan matang guna menghindari perceraian dan permasalahan lainnya yang mengganggu harmonisasi dalam berkeluarga.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang tergabung dalam kelompok 100 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2018 bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur Melalui Badan Pemberdayan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Daerah Bangkalan mengadakan Sosialisasi Pernikahan Usia Dini dengan tema “Pendewasaan Usia Pernikahan dan Pentingnya Membentuk Keluarga yang Sejahtera melalui Keluarga Berencana”.

Beberapa tahun yang lalu Dusun Secang (salah satu dusun di Desa Pakong) menjadi binaan dari BKKBN Jatim melalui Progam Kampung KB. Dari binaan inilah yang nantinya menjadi awal upaya mengatasi permasahan-permasalahan masyarakat yang sering terjadi khususnya permasalahan kependudukan. Hal ini pula yang membuat dukungan dari Perangkat Desa Pakong kepada mahasiswa KKN UTM untuk membuat Sosialisasi KB terhadap masyarakat sekitar.

Sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Desa Pakong dihadiri oleh Pegawai PLKB Kecamatan Modung, Apatur Desa, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna dan beberapa undangan lainnya termasuk remaja desa sebagai target utama dari sosialisasi dan ibu-ibu warga Desa Pakong sebagai orang tua yang bertanggungjawab atas masa depan anaknya.

Sosialisasi tersebut memiliki tujuan agar mampu mengubah paradigma masyarakat tentang pernikahan dini. Dengan berbagai gagasan yang akan disampaikan oleh narasumber diharapkan mampu meminimalisir pernikahan dini di Desa Pakong Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini menghadirkan Bapak R. Ach Munif Haryono. S.KM, M.Kes yang merupakan Pegawai BPPKB Kabupaten Bangkalan sekaligus pemateri utama dalam kegiatan sosialisasi ini. Pak munif menjelaskan bahwa pernikahan yang ideal sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yaitu usia 21 tahun untuk wanita dan usia 25 tahun untuk laki-laki.

“Bapak ibu adek-adek sekalian, di kesempatan forum kali ini, saya perlu menyampaikan beberapa dampak pernikahan usia dini mulai dari dampak kesehatan, dampak psikis emosinal serta dampak fisik anak” kata beliau sambil menyapa peserta kegiatan ini.

“Secara kesehatan akan berdampak pada rahim karena kesiapan rahim seorang wanita yaitu diatas usia 20 tahun,” tambahnya.

Setelah uraian materi yang disampaikan oleh Pak Munif, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab serta saran untuk kemajuan Progam KB di desa tersebut. Kegiatan yang dipandu langsung oleh Bapak Drs. Edy Hartono, M.M. (Pegawai PLKB Kecamatan Modung)  berlangsung menarik, pasalnya beberapa peserta bertanya dan memberikan respon yang cukup baik terhadap apa yang disampaikan oleh pemateri utama.

Dalam Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), kata dia, semuanya diarahkan pada Nawacita atau sembilan agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat desa atau kampung, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dan melakukan revolusi karakter bangsa

Di akhir sesi Pak Munif mendorong agar peran Kampung KB ini lebih dirasakan oleh masyarakat sekitar, mengingat dalam Progam Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan (KKBPK) akan diarahkan pada Nawacita atau Sembilan agenda prioritas pemerintahan Presiden Jokowi, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkut desa, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan melakukan revolusi karakter. “Kampung KB merupakan progam terstruktur dari pemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan kependudukan, jadi tetap semangat mengikuti rangkaian kegiatan yang ada di Kampung KB, nantinya akan ada kesempatan pelatihan langsung dari ahlinya kepada masyarakat guna menumbuhkan ekonomi di desa ini,” paparnya sambil mengajak seluruh warga desa binaan BKKBN ini.

Kegiatan ini juga disusul dengan pelatihan kreatifitas oleh Mahasiswa KKN dengan menyulam sebagai ketrampilan yang nantinya bisa memberikan keindahan rumah bahkan bisa mendatangkan sumber pendapatan warga.

“Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi warga Desa Pakong dalam membentuk keluarga yang sejahtera.” ucap Romdlan yang merupakan koordinator desa KKN 100 UTM.

Kegiatan ini diakhiri dengan Peresmian Rumah Data dan Pojok Kependudukan oleh H. Samsul Hadi selaku Kepala Desa Pakong dengan pemotongan pita yang disaksikan langsung oleh seluruh peserta maupun undangan yang hadir di kegiatan sosialisasi tersebut. Rumah Data dan Pojok Kependudukan diharapkan menjadi pusat informasi seluruh aktivitas kependudukan di desa tersebut.
(Adi)
Share:

Hasil Olahan Produk Lokal, Warga Menyebutnya "BOHONG"


Hasil Olahan Brownies Singkong
Desa Pakong merupakan salah satu Desa yang berada di kecamatan modung, kabupaten Bangkalan. Untuk menuju Desa yang terletak di arah timur laut dar kota Bangkalan, harus ditempuh kurang lebih 45 menit dari pusat kota. Desa Pakong yang identik dengan suasana religi merupakan sebuah daerah yang terdiri dari batuan karst. Tidak heran jika memasuki musim kemarau menjadikan daerah ini sulit mendapatkan air atau kekeringan hal ini berpengaruh pada mata pencaharian warga sekitar. Musim penghujan tiba, sebagian warga desa pakong menanam padi sebagai penghasilan utama, sedangkan jika memasuki musim kemarau warga memanfaatkan lahan sawah maupun tegal dengan ditanami tanaman biji-bijian, singkong serta jagung. 

Singkong atau biasa dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan pohong merupakan salah satu penghasil karbohidrat yang cocok untuk dikonsumsi ketika lapar. Singkong oleh warga lokal biasanya hanya diolah menjadi jajanan pasar yang biasanya dikonsumsi pagi hari sebagai pengganjal perut sebelum melakukan aktivitas harian. Produk yang seperti tidak memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa memiliki gagasan yang dikonsep dalam kegiatan bertajuk “Pelatihan Pengolahan Brownies Singkong sebagai Alternatif Meningkatkan Nilai Jual Hasil Pangan Lokal”. Kegiatan ini mengundang Ibu PKK, Karang Taruna da ibu rumah tangga Desa Pakong. Sebagian mahasiswa beserta ibu-ibu desa pakong begitu antusias melalukan pengolahan brownies sesuai dengan resep yang. Dicelah-celah kegiatan sharing pengalaman dan komunikasi terjalin baik antara mahasiswa dan ibu-ibu serta peserta yang hadir. Setelah pengolahan selesai, tak lupa mahasiswa memberikan metode pengemasan yang baik dan cara pemasaran yang efektif melalui onlineshop atau media sosial lainnya.

Acara yang dilaksanakan pada senin tanggal 23 juli 2018 bertempat di kantor Desa Pakong mendapat respon baik, bahkan selepas acara ditutup ada beberapa warga yang langsung mencoba membuat brownies singkong yang diberi nama hits “BOHONG” yang berarti brownies pohong, sebagai persiapan acara keluarga dan arisan. “Kegiatan seperti inilah yang harus sering dilakukan untuk memberikan pekerjaan kepada ibu-ibu desa pakong sehingga bisa membantu perekonomian keluarga.” tegas Ibu Hj. Nur Azizah (Ketua PKK Desa Pakong) pada akhir kegiatan kepada peserta.


Proses pembuatan brownies singkong oleh mahasiswa dan ibu-ibu desa pakong
Harapan dari mahasiswa melalui kegiatan ini ibu-ibu desa pakong bisa mencoba dan memiliki pekerjaan sampingan atau biasa disebut home industri. “Kekurangan pasti ada, namun yang perlu ditekankan adalah proses belajar yang tak mengenal usia.” Imbuh salah satu mahasiswa yang memberikan semangat kepada peserta yang hadir. Produk tersebut juga memiliki nilai gizi yang cukup karena bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang alami tanpa menggunakan bahan sintetis seperti pewarna ataupun pengawet buatan. 
Share:

Mahasiswa KKN 100 Manfaatkan Lahan Kosong Guna Kebutuhan Bersama

Proses penanaman benih dalam polybag oleh Ibu-ibu PKK Desa Pakong
               Jumat, 20 Juli 2018, Program kerja tambahan berupa pemanfaatan lahan kosong akan segera dimulai. Bermodalkan bibit/benih unggul, pupuk, cangkul dan linggis, para anggota KKN 100 Tematik Universitas Trunojoyo Madura menuju lahan kosong yang berada di Dusun Secang tepatnya sebelah timur kali yang mengalirkan gemercik air, tidak terlalu keruh namun sedikit kotor yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mandi, mencuci bahkan memenuhi kebutuhan sehar-hari. Lahan kosong tersebut akan segera direnovasi menjadi taman yang hijau penuh dengan bunga, sayur-sayuran, dan buah-buahan.

            Sore itu, Feny Nur Kusumawati, mahasiswi semester 6 jurusan Agroteknologi yang bertugas sebagai instruktur dalam kegiatan ini. Bibit semangka merah dan kuning, melon, blewah, bayam dan bayam merah yang sudah disiapkan akan segera ditanam. Melalui bekal ilmu saat perkuliahan, ia memberikan gambaran singkat terkait budidaya kepada peserta yang hadir. Pembibitan dimulai dengan mengisi polybag dengan media tanam yang terdiri dari tanah dan pupuk kandang. Kemudian benih tersebut disemai dalam polybag yang memudahkan ketika tanaman siap dipindahkan ke lahan. Proses awal pembibitan yang tepat akan mempengaruhi kecepatan tumbuh tanaman.”Melalui lahan pekarangan, warga bisa bercocok tanam tanpa harus pergi ke lahan sawah. selain itu juga dapat dimanfaatkan dengan menanam sayur-sayuran agar pekarangan rumah menjadi lebih hijau dan asri” ucap Feni mahasiswa asal Bojonegoro itu.

Pembuatan media tanam dalam polybag
            Kegiatan yang dimulai pukul 15.45 WIB dihadiri oleh Ibu Ketua PKK ( Ibu Hj. Nur Azizah) sekaligus sebagai Ibu Kepala Desa, beserta kader dan Pengurus PKK Desa Pakong, selain itu tidak lupa juga nampak rekan-rekan Karang Taruna dan ibu-ibu rumah tangga yang tidak mau ketinggalan dalam berpartisipasi di kegiatan ini. Ketertarikan warga setempat dikarenakan lahan pekarangan rumah mereka yang dibiarkan kosong dan gersang. Hal inilah yang diupayakan oleh Mahasiswa KKN untuk merubah mindset warga agar pekarangan rumah bisa menjadi lahan yang produktif dan bermanfaat.

            Kegiatan pemanfaatan lahan kosong menjadi pekarangan sayur, buah, dan bunga sebagai upaya untuk menjaga kondisi lingkungan yang cenderung pengap karena debu. Pekarangan ini juga disiapkan untuk mengikuti perlombaan dalam Peringatan Hari PKK Se-Kabupaten Bangkalan mewakili Kecamatan Modung. Kegiatan ini merupakan awal untuk membentuk kesadaran warga terhadap lingkungan tempat tinggal. Selanjutnya dibutuhkan koordinasi, komunikasi serta konsitensi setiap warga untuk menjaga dan merawat bibit tanaman yang telah ditanam.
Share:

Upaya Penguatan Pendidikan Karakter untuk mencetak Generasi yang Cerdas dan Berkarakter

         Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk di berikan kepada generasi selanjutnya, seiring perkembangan zaman yang semakin pesat belum lagi era globalisasi yang cenderung memiliki berbagai dampak terhadap daya fikir anak. Disamping dibekali ilmu pengetahuan dan teknologi atau biasa disebut IPTEK, anak-anak juga perlu dibekali pendidikan karakter yang kuat. Tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk membekali generasi dengan nilai-nilai budaya bangsa agar tidak mudah terpengaruh budaya asing. Selain itu, pendidikan karakter diharapkan dapat melatih dan mengembangkan kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.
Share:

Cegah Penyakit Difteri Sejak Usia Dini melalui Progam Imunisasi

Pengukuran Tinggi Badan oleh Mahasiswa KKN Tematik
    Difteri merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Penyakit ini bisa dicegah melalui imunisasi kepada anak usia dini (4-6 tahun). Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak sampai seumur hidup.

Share:

Silaturahim ke Perangkat Desa Pakong, Peserta KKN Bahagia

Kuliah Kerja Nyata Universitas Trunojoyo Madura resmi di mulai pada 18 Juli 2018. Setelah dibuka langsung di Kecamatan Modung, kelompok 100 lalu menuju Desa Pakong untuk  menyiapkan seluruh perlengkapan di Posko yang terletak di Dusun Secang, Desa Pakong, Kecamatan Modung, Bangkalan. Tiba di lokasi para peserta yang berasal dari berbagai program studi di Universitas Trunojoyo Madura langsung berbenah dan menyiapkan segala sesuatunya di posko KKN 100.

Esok harinya, Kamis 19 Juli 2018, Pukul 20.00 lepas sholat isya seluruh peserta dari KKN kelompok 100 yang berjumlah 15 orang langsung menuju rumah Kepala Desa yang sementara ini juga di manfaatkan sebagai kantor Desa Pakong, karena terhambat renovasi. Pada acara yang dikemas sebagai “Silahturahim dan pengenalan kepada Aparat Desa Pakong” di hadiri oleh beberapa perwakilan dari Karang Taruna, Kepala PKK, Ibu Kepala Desa, BPD, Sekretaris Desa Pakong dan juga beberapa Ketua RT/RW.

Suasana hangat Silahturahim dengan Perangkat Desa Pakong
Setelah individu memperkenalkan diri, Koordinator Desa Kelompok 100 “Romdlan” menyampaikan rangkaian program kerja yang sudah di rencanakan. Salah satu progam kerja yang menarik adalah Progam Kampung KB Secang yang bekerjasama dengan BKKBN Provinsi Jawa Timur. Tak lupa permohonan bimbingan, partisipasi serta dukungan dari masyarakat sangat diharapkan dalam pelaksanaan program kerja tersebut.

      Ariyanto (Perwakilan BPD Pakong) dalam sambutannya menerima dengan senang hati kedatangan tamu dari UTM ini dan mendukung segala aktivitas yang dilakukan, terlebih program kerja yang diajukan sangat bermanfaat untuk warga Desa Pakong. Semakin malam, terlihat arah diskusi begitu menarik untuk mengembangkan berbagai potensi untuk kemajuan desa ini. Dalam hal ini, rasa lega dan bahagia telah merasuk kedalam hati peserta KKN untuk melaksanakan pengabdian sekalipun waktunya kurang dari satu bulan. 
Share:

About

Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.